Tampilkan postingan dengan label 3D Studio Max. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3D Studio Max. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Oktober 2012

Material Pagar, Kenali Dulu Karakteristiknya



Memilih material pagar bukan perkara sepele. Ada persyaratan yang harus dipenuhi berkaitan dengan peletakannya yang berada di luar ruang dan langsung berhubungan dengan pelbagai kondisi cuaca. Kesalahan memilih material dan cara menanganinya akan membuat tampilan pagar tidak maksimal. Sebelum menentukkan material apa yang akan dipakai, ini dia penjabaran karakteristik materialnya.
Besi
(+) Kuat dan kokoh. Mampu memberi perlindungan dan keamanan yang baik bagi pemilik rumah. Selain itu, besi termasuk material yang awet, tidak mudah kusam, dan dapat dibentuk beragam desain sesuai dengan keinginan.
(-) Harga relatif mahal. Semakin tebal besi yang dipakai, semakin lama waktu pengerjaannya.
Catatan:
Tak boleh tampil polos, harus di-finishing menggunakan cat besi. Cocok diterapkan untuk pagar berdesain minimalis, modern, dan klasik.
Beton
(+) Kuat dan solid. Walau kesannya masif dan kaku karena berbentuk flat, pagar ini terbilang awet dan tahan lama.
(-) Mahal dalam pembuatannya dan butuh waktu yang lama.
Catatan:
Jika diekspos harus di-finishing menggunakan cat anti lumut dan di-waterproofing dengan menggunakan cat transparan. Atau, di-finishing menggunakan cat eksterior. Cocok diterapkan untuk pagar berdesain minimalis, dan modern.
Bata Plesteran
(+) Dilihat dari tampilan, mirip dengan beton. Tetapi dari kekuatan, dinding beton lebih baik. Sedang dari cara aplikasi, dinding bata plesteran tidak hanya berbentuk flat, tetapi dapat bermotif atau profilan.
(-) Jika campuran bahan dalam memplester tidak baik, dapat mengakibatkan retak bahkan gompel.
Catatan:
Pengerjaannya mirip dengan dinding rumah, tetapi karena posisinya di luar harus diberi lapisan anti lumut. Lebih baik tidak di ekspos dan di-finishing dengan cat. Cocok diterapkan untuk pagar berdesain minimalis, modern, dan klasik.
Batu Alam
(+) Dapat menghadirkan kesan alami. Bentuknya bermacam-macam dengan pilihan warna beragam hingga memberi Anda banyak pilihan model pagar.
(-) Membutuhkan perawatan berkala agar batu tidak berlumut dan tetap tampil cantik. Pengerjaan pun dituntut harus rapi.
Catatan:
Pilih batu alam yang memiliki pori-pori kecil dan warna agak gelapan, seperti andesit dan candi. Tujuannya agar pagar terlihat bersih, tidak cepat berjamur, dan berlumut. Jangan lupa meng- coatingagar batu alam tahan lama. Cocok diterapkan untuk pagar berdesain modern dan tradisional.
Bata Ekspos
(+) Memberikan tampilan lebih natural terhadap rumah seperti batu alam.
(-) Membutuhkan perawatan berkala agar bata tidak berlumut dan tetap tampil cantik. Pengerjaan pun dituntut harus rapi. Bila dibandingkan dengan batu alam, ia mudah lapuk dan cepat ditumbuhi lumut.
Catatan:
Pilih bata yang menggunakan teknik pabrikasi, bukan bata tradisional. Secara presisi dan porositasnya pun memiliki kondisi jauh lebih bail. Jangan lupa meng- coating agar bata ekspos tahan lama. Cocok diterapkan untuk pagar berdesain modern dan tradisional.
Kayu
(+) Memberi tampilan alami dan berkesan hangat. Karakteristiknya yang mudah dibentuk beragam model membuat banyak orang menggunakan material ini.
(-) Mudah kusam, keropos, dan lapuk.
Catatan:
Jangan sesekali menggunakan kayu buatan seperti MDF, particle board, atau multipleks, karena akan langsung hancur saat terkena hujan. Kayu yang digunakan harus solid dan padat. Disarankan menggunakan kayu besi atau kayu ulin, tetapi harganya sangat mahal. Jangan lupa untuk meng-coating. Cocok diterapkan untuk pagar berdesain minimalis, modern, tradisional, dan klasik.
Bambu
(+) Bambu mudah didapat dan harganya relatif murah. Bentuk dan penampilannya dapat menghadirkan kesan unik pada tampilan pagar dan rumah.
(-) Tidak kokoh, mudah kusam, keropos, dan lapuk.
Catatan:
Untuk bambu ekspos, pilih bambu kuning, jangan bambu hijau. Warnanya yang bagus membuat tampilan pagar kian menarik. Kualitasnya juga lebih kuat dibanding bambu hijau.. Jangan lupa untuk meng-coating. Cocok diterapkan untuk pagar berdesain tradisional dan modern.
Tanaman
(+) Pagar tanaman dapat mempercantik sekaligus melindungi rumah. Kehadirannya dapat memperlunak tampilan bangunan rumah. Selain itu, tanaman juga menjadi sarana dalam menyaring polusi udara dan suara dari jalan. Warna-warni dari bunga tanaman juga bisa menimbulkan kesan hidup, alami, dan indah.
(-) Perlu perawatan intensif seperti penyiraman, pemupukan, dan pemangkasan. Jika tidak dikerjakan dengan teliti, tampilan pagar tidak akan tampil sempurna.
Catatan:
Tanaman yang biasa dijadikan untuk pagar adalah bambu, beluntas (Pluchea indica), kemuning (Murraya paniculata), soka (Ixora spp), dan tanaman rambat, Cocok diterapkan untuk pagar berdesain minimalis, modern, tradisional, dan klasik.
(Irfan Hidayat – irfan@tabloidrumah.com)
Foto: Tan Rahardian

Minggu, 10 April 2011

Wardrobe Atau Walk In Closet ?

Dewasa ini kita mengenal dua jenis lemari pakaian: wardrobe dan walk in closet. Wardrobe adalah loose furniture, lemari pakaian yang dapat dipindah-pindah atau diletakkan di mana saja sesuai kebutuhan. Sedangkan walk ini closet adalah ruang tempat menyimpan pakaian termasuk tas, sepatu, dan lain-lain yang memungkinkan pengguna melaluinya (walk in). Ukurannya biasanya lebih besar. “Minimal 2 x 3 meter,” kata Fernando S Siregar, desainer Chantique, salah satu produsen lemari di Jakarta.
Lemari ini sulit dipindah-pindah karena sudah built in dengan sebuah ruang. Lazimnya peletakan dekat kamar mandi dalam kamar tidur utama, menyatu dengan tempat berdandan. Jadi, selesai mandi kita bisa langsung memilih busana di walk in closet sebelum berhias. Keluar dari kamar tidur sudah dalam keadaan rapi. Wardrobe tersedia dalam bentuk produk jadi, sedangkan walk in closet dibuat berdasarkan pesanan (customized).

Sesuai kebutuhan
Menurut Evelyn Nila Chandra, Designer PT Linear Indonesia, produsen furniture lain di Jakarta yang mengusung merek The Line, walk in closet harus disesuaikan dengan kebutuhan penghuni. “Jadi, kita perlu menentukan dulu barang-barang yang akan disimpan di walk in closet mulai dari pakaian, tas, sepatu, sampai aksesori,” katanya.

Dari situ bisa dirumuskan bentuk modul yang akan diaplikasikan pada walk in closet seperti pintu, rak, laci, dan area gantung. Rak untuk menaruh pakaian lipat, handuk, dan selimut; laci untuk pakaian dalam, kaos kaki, dan yang sejenis itu; area gantung untuk pakaian yang harus digantung seperti kemeja dan gaun panjang, atau bisa juga ditambah area gantung khusus untuk dasi, selendang, dan syal.

Penempatan barang-barang dalam modul perlu juga disesuaikan dengan jenis dan frekuensi penggunaannya. “Misalnya, sepatu pesta yang jarang dipakai bisa ditaruh di lemari dengan tempat khusus sepatu,” jelasnya. Sementara pintu bisa diterapkan bisa juga tidak. Yang penting semua barang dalam lemari terlindung dari debu dan kotoran. Kalau diberi pintu, bentuknya bisa lipat (folding door) atau geser (sliding door).

Lampu otomatis
Evelyn menyarankan pemasangan walk in closet sudah direncanakan saat merancang rumah. Bentuknya disesuaikan dengan luas ruang. Bisa I-line (memanjang segaris dengan dinding), berbentuk L, atau empat persegi panjang. Pada rumah besar walk in closet bisa didesain terhubung dengan ruang tidur atau bahkan ruang mandi kering. Jangan lupa memajang cermin atau meja rias agar aktivitas berpakaian dan berdandan lebih maksimal.

Bahan lemari pakaian beragam sesuai dengan desain ruang. Selain MDF (medium density fiber), kayu nyatoh dan plywood dengan finishing melamik atau duco juga populer digunakan. Pilihan warna dan motifnya juga beragam. Aplikasi kaca sandblast (buram) pada pintu dapat makin mempercantik lemari.

Untuk memudahkan pencarian barang di lemari, walk in closet perlu dilengkapi lampu yang menyala secara otomatis saat kita mengambil pakaian, dan mati setelah kita keluar dari lemari. Sebaiknya gunakan lampu halogen yang cahayanya terang dan mampu memperlihatkan warna asli pakaian dalam lemari. Jadi, kita tidak keliru memilih. Bisa juga lampu neon kecil dengan intensitas cahaya memadai.

Chantique menjual lemarinya sekitar Rp4 juta/meter lari. Sedangkan The Line menawarkan koleksi lemari dengan tinggi 207 cm, lebar 101 cm, dan panjang 60 cm seharga Rp4,9 juta. Sementara walk in closet akan dikerjakan dengan minimal order untuk 10 proyek dengan harga sesuai kesepakatan. Tak ada tips khusus untuk merawat lemari pakaian. Yang penting jaga kelembabannya agar pakaian tidak berjamur dan cepat rusak. “Buka pintu lemari supaya udara masuk,” ujar Fernando.

Sumber: housing-estate.com

Selasa, 22 Maret 2011

Rumah Mungil yang Tak Lagi Sempit

Tersedianya lahan rumah yang kian minim dewasa ini memang menjadi kendala tersendiri untuk menghadirkan rumah yang nyaman. Salah satu kesulitan yang ditemui adalah keterbatasan ruang sehingga pergerakan anggota keluarga pun terbatas.

Bagi sebagian orang, lahan yang kecil bukan masalah karena justru memudahkan mereka untuk merawatnya- terlebih bila memiliki tingkat kesibukan yang tinggi. Namur bila jumlah anggota keluarga dan kebutuhan ruang kian bertambah, konsep rumah bertingkat bisa dijadikan jalan keluar. Berikut beberapa tip yang bisa dijadikan inspirasi bagi Anda.

1. Pembagian Ruang
Dengan adanya dua lantai, membagi area akan terasa lebih mudah. Di lantai bawah bisa dibuat dua ruang tidur, dengan satu kamar utama dan satu kamar yang lebih kecil, serta satu kamar mandi. Untuk pemisahan area antara ruang tamu dan ruang makan bisa dilakukan dengan menggunakan pemisah ruangan yang mudah dipindahkan. Bila masih tersisa ruang terbuka di bagian belakang, bisa juga digunakan sebagai ruang makan tanpa menghilangkan taman sama sekali. Tentunya dengan tambahan atap atau kanopi untuk menahan tampias air hujan.

Sementara itu di lantai atas bisa digunakan sebagai ruang menonton televisi untuk menjaga privasi, area untuk menjemur pakaian dan dua kamar tidur tambahan. Usahakan untuk tidak membuat terlalu banyak sekat, baik di lantai atas maupun bawah.

Untuk menyiasati area kamar mandi yang sempit, Anda dapat menyingkirkan bak mandi dan mengganti dengan shower yang jauh lebih hemat tempat.

2. Cahaya
Satu hal yang harus diperhatikan dari rumah mungil adalah memberi cahaya masuk lebih banyak untuk memberi kesan lebih luas. Atap yang cukup tinggi, membuat balkon atau bukaan jendela yang cukup besar dapat memberi cahaya yang lebih banyak. Agar lebih maksimal, gunakan pula warna furnitur dan dinding yang terang.

3. Furnitur
Gunakan furniture dengan ukuran sedang untuk menjaga fleksibilitas area. Akan lebih baik bila menggunakan furniture multifungsi, seperti tempat tidur yang memiliki laci penyimpanan di bagian bawahnya. Gunakan pula furniture yang memungkinkan untuk mengisi bagian sudut untuk meminimalkan area yang terbuang.

Saat ini ada beberapa pengembang yang menggunakan konsep rumah bertingkat di atas lahan mungil. Bila tidak, tanyakan secara detil apakah penghuni dapat mengubah bentuk dasar rumah dan pondasi rumah tersebut sanggup untuk dibuat dua tingkat. Akan lebih baik lagi bila masih ada sisa lahan, sekitar 0,5-1 meter, untuk mengembangkan bentuk rumah. (KOMPAS)

Portfolio kami



Minggu, 26 September 2010

Tutorial 3D Studio Max: Rendering



Pada posting kali ini akan kita coba mengenali apa itu merender...? Merender adalah ibarat memetik buah hasil dari segala apa yang telah kita program, rencanakan, rancang/desain dengan mensave/menyimpannya menjadi sebuah file dengan format tertentu yang kita inginkan, entah itu berupa J Peg, PNG, Avi, dll.. Dan pada kesempatan kali ini, akan tersediakan sebuah template file 3DS MAX yang sederhana yang bisa Anda download untuk mengetahui secara sederhana tentang merender. Pada template tersebut hanya akan ada beberapa object sederhana : Teapot; Box/alas; skylight dan omni (sebagai penerangan), dan text. Dan perender yang akan kita gunakan adalah scanline, karena secara default ( keumuman tampilan 3DS MAX ketika kita membukanya sebelum diedit/diubah) adalah menggunakan scanline renderer. Gambar-gambar dibawah ini adalah hal-hal penting saja yang perlu diperhatikan ketika akan merender dan untuk lebih detailnya silahkan Anda buka template tersebut.



Peta komposisi objek yang akan kita render.

Diantara hal-hal penting yang harus diperhatikan ketika akan merender (scanline renderer) pada sample template pada kali ini : Anda klik render scene (atau tekan f10), lalu pilih advanced lighting- pilih light tracer. Lihat gambar dibawah...!!

Lalu Anda klik/aktifkan lampu omni pada viewport (sehingga berwarna putih), lalu klik tombol modify (sebelah kanan atas yang bersebelahan dengan create) untuk memunculkan parameternya. Bila sudah muncul maka atur multipliernya sesuai kebutuhan : sebagai misal yang sesuai untuk sample template yaitu 0.4. Lihat gambar dibawah....!!



Lalu aktifkan (kasih tanda centang) Shadow agar on/aktif. Bila tidak diaktifkan maka bayangan object anda tidak akan terrender alias tanpa bayangan sehingga akan tampak tidak realistis. Dan silahkan Anda pilih jenis bayangannya, sebagai contoh : Ray trace shadows. Silahkan dicoba-coba sendiri untuk mengetahui karakter masing-masingnya. Lihat gambar dibawah..!!




Lalu Anda kurangi densitas shadownya dari 1 menjadi 0.5 agar tidak terlalu gelap. Tapi hal ini tentu saja sesuai kebutuhan, yakni butuh improvisasi.



Untuk merender, Silahkan Anda cari sudut pandang yang sesuai pada viewport perspektif sebagai misal, sesuai yang anda inginkan terhadap object. Bila telah siap, tekan F10 untuk memunculkan "render scene", lalu pastikan bahwa dibagian bawah render scene, pada tampilan viewport terpilih tercantumkan "perspektif"/viewport mana yang ingin Anda render. Kemudian Anda tinggal tekan Render ( untuk cara cepat tekan F9). Maka akan tertampilkan sebuah kondisi kurang lebih seperti gambar dibawah ini... Silahkan tunggu sampai renderan selesei dengan sabar... setelah itu tinggal Anda save sesuai dengan bentuk file yang diinginkan... bila hasil renderan kurang sesuai silahkan diedit ulang dan dirender ulang sampai merasa cukup dengan hasilnya...




Contoh gambaran tampilan layar 3DS MAX ketika merender.

Gambar dibawah adalah contoh hasil renderan sesuai pada sample template yang telah tersediakan.

Selamat Menikmati....!!


Untuk File sample templatenya silahkan Anda download di sini.

(Catatan : File templatenya adalah 3DS MAX 7, pada umumnya filenya bisa dibuka pada software 3DS MAX semisal atau yang lebih tinggi/baru (3DS MAX 8;9;2008;2009),dan tidak bisa dibuka di 3DS MAX dibawahnya . Tapi ndak ada salahnya dicoba-coba dulu.)





Dan dibawah ini adalah contoh pengolahan hasil merender image sesuai pada template yang telah digabungkan menjadi file GIF.

faneltsa render 3DS MAX

Sumber: faneltsa3dsmax.blogspot.com

Tutorial 3D Studio Max: Menggunakan Modifier Bend

Tampilan object sebelum dimodifikasi.


Tampilan object setelah dimodifikasi.



Cara mengaktifkan modifier bend sangat mudah dan ada 2 cara. Tapi ingat modifier ini bisa ditampilkan bila object yang akan dimodifikasi sudah tersedia di viewport. Cara pertama pilih modifier - parametric deformer - bend. Lihat gambar dibawah....!!





Rata Kiri

Rata KiriCara kedua, pilih Modify- lalu buka modify list sehingga akan muncul sekian banyak modifier - pilih bend. Lihat gambar di bawah....!!



Bila modifier bend sudah diaktifkan, maka akan muncul sebuah parameter yang akan menjadi asisten anda dalam memodifikasi, parameternya sangat sederhana.. silahkan Anda otak-atik sendiri... agar lebih jelas... sebagai gambaran globalnya... Angel : besar sudut pelengkungan, Direction : Arah pelengkungan, Bend Axis : sumbu pelengkungan, Limit : Pembatasan dalam bermodifikasi. Lihat gambar dibawah...!!!



Sebagai sample tampilan visualnya, coba perhatikan image dibawah... cukup mudah dan jelas untuk dipahami bukan..... ?



Proses pemodifikasian dengan merubah angel dan direction dari parameter "bend".

Dan sebagai hidangan penutup, mari kita coba merakit image diatas menjadi satu tampilan visual yang akan memudahkan kita memahami tentang apa itu Bend dan dari sini akan tergambarkan kepada kita tentang apa itu animasi.

Selamat menikmati....!!!




faneltsa bend





Sumber: faneltsa3dsmax.blogspot.com