Rabu, 24 Oktober 2012
Material Pagar, Kenali Dulu Karakteristiknya
Minggu, 08 Juli 2012
Minggu, 01 Januari 2012
Rabu, 14 September 2011
PORTFOLIO KAMI
Minggu, 10 April 2011
Wardrobe Atau Walk In Closet ?
Lemari ini sulit dipindah-pindah karena sudah built in dengan sebuah ruang. Lazimnya peletakan dekat kamar mandi dalam kamar tidur utama, menyatu dengan tempat berdandan. Jadi, selesai mandi kita bisa langsung memilih busana di walk in closet sebelum berhias. Keluar dari kamar tidur sudah dalam keadaan rapi. Wardrobe tersedia dalam bentuk produk jadi, sedangkan walk in closet dibuat berdasarkan pesanan (customized).
Sesuai kebutuhan
Menurut Evelyn Nila Chandra, Designer PT Linear Indonesia, produsen furniture lain di Jakarta yang mengusung merek The Line, walk in closet harus disesuaikan dengan kebutuhan penghuni. “Jadi, kita perlu menentukan dulu barang-barang yang akan disimpan di walk in closet mulai dari pakaian, tas, sepatu, sampai aksesori,” katanya.
Dari situ bisa dirumuskan bentuk modul yang akan diaplikasikan pada walk in closet seperti pintu, rak, laci, dan area gantung. Rak untuk menaruh pakaian lipat, handuk, dan selimut; laci untuk pakaian dalam, kaos kaki, dan yang sejenis itu; area gantung untuk pakaian yang harus digantung seperti kemeja dan gaun panjang, atau bisa juga ditambah area gantung khusus untuk dasi, selendang, dan syal.
Penempatan barang-barang dalam modul perlu juga disesuaikan dengan jenis dan frekuensi penggunaannya. “Misalnya, sepatu pesta yang jarang dipakai bisa ditaruh di lemari dengan tempat khusus sepatu,” jelasnya. Sementara pintu bisa diterapkan bisa juga tidak. Yang penting semua barang dalam lemari terlindung dari debu dan kotoran. Kalau diberi pintu, bentuknya bisa lipat (folding door) atau geser (sliding door).
Lampu otomatis
Evelyn menyarankan pemasangan walk in closet sudah direncanakan saat merancang rumah. Bentuknya disesuaikan dengan luas ruang. Bisa I-line (memanjang segaris dengan dinding), berbentuk L, atau empat persegi panjang. Pada rumah besar walk in closet bisa didesain terhubung dengan ruang tidur atau bahkan ruang mandi kering. Jangan lupa memajang cermin atau meja rias agar aktivitas berpakaian dan berdandan lebih maksimal.
Bahan lemari pakaian beragam sesuai dengan desain ruang. Selain MDF (medium density fiber), kayu nyatoh dan plywood dengan finishing melamik atau duco juga populer digunakan. Pilihan warna dan motifnya juga beragam. Aplikasi kaca sandblast (buram) pada pintu dapat makin mempercantik lemari.
Untuk memudahkan pencarian barang di lemari, walk in closet perlu dilengkapi lampu yang menyala secara otomatis saat kita mengambil pakaian, dan mati setelah kita keluar dari lemari. Sebaiknya gunakan lampu halogen yang cahayanya terang dan mampu memperlihatkan warna asli pakaian dalam lemari. Jadi, kita tidak keliru memilih. Bisa juga lampu neon kecil dengan intensitas cahaya memadai.
Chantique menjual lemarinya sekitar Rp4 juta/meter lari. Sedangkan The Line menawarkan koleksi lemari dengan tinggi 207 cm, lebar 101 cm, dan panjang 60 cm seharga Rp4,9 juta. Sementara walk in closet akan dikerjakan dengan minimal order untuk 10 proyek dengan harga sesuai kesepakatan. Tak ada tips khusus untuk merawat lemari pakaian. Yang penting jaga kelembabannya agar pakaian tidak berjamur dan cepat rusak. “Buka pintu lemari supaya udara masuk,” ujar Fernando.
Sumber: housing-estate.com
Selasa, 22 Maret 2011
Rumah Mungil yang Tak Lagi Sempit
Tersedianya lahan rumah yang kian minim dewasa ini memang menjadi kendala tersendiri untuk menghadirkan rumah yang nyaman. Salah satu kesulitan yang ditemui adalah keterbatasan ruang sehingga pergerakan anggota keluarga pun terbatas.
Bagi sebagian orang, lahan yang kecil bukan masalah karena justru memudahkan mereka untuk merawatnya- terlebih bila memiliki tingkat kesibukan yang tinggi. Namur bila jumlah anggota keluarga dan kebutuhan ruang kian bertambah, konsep rumah bertingkat bisa dijadikan jalan keluar. Berikut beberapa tip yang bisa dijadikan inspirasi bagi Anda.
1. Pembagian Ruang
Dengan adanya dua lantai, membagi area akan terasa lebih mudah. Di lantai bawah bisa dibuat dua ruang tidur, dengan satu kamar utama dan satu kamar yang lebih kecil, serta satu kamar mandi. Untuk pemisahan area antara ruang tamu dan ruang makan bisa dilakukan dengan menggunakan pemisah ruangan yang mudah dipindahkan. Bila masih tersisa ruang terbuka di bagian belakang, bisa juga digunakan sebagai ruang makan tanpa menghilangkan taman sama sekali. Tentunya dengan tambahan atap atau kanopi untuk menahan tampias air hujan.
Sementara itu di lantai atas bisa digunakan sebagai ruang menonton televisi untuk menjaga privasi, area untuk menjemur pakaian dan dua kamar tidur tambahan. Usahakan untuk tidak membuat terlalu banyak sekat, baik di lantai atas maupun bawah.
Untuk menyiasati area kamar mandi yang sempit, Anda dapat menyingkirkan bak mandi dan mengganti dengan shower yang jauh lebih hemat tempat.
2. Cahaya
Satu hal yang harus diperhatikan dari rumah mungil adalah memberi cahaya masuk lebih banyak untuk memberi kesan lebih luas. Atap yang cukup tinggi, membuat balkon atau bukaan jendela yang cukup besar dapat memberi cahaya yang lebih banyak. Agar lebih maksimal, gunakan pula warna furnitur dan dinding yang terang.
3. Furnitur
Gunakan furniture dengan ukuran sedang untuk menjaga fleksibilitas area. Akan lebih baik bila menggunakan furniture multifungsi, seperti tempat tidur yang memiliki laci penyimpanan di bagian bawahnya. Gunakan pula furniture yang memungkinkan untuk mengisi bagian sudut untuk meminimalkan area yang terbuang.
Saat ini ada beberapa pengembang yang menggunakan konsep rumah bertingkat di atas lahan mungil. Bila tidak, tanyakan secara detil apakah penghuni dapat mengubah bentuk dasar rumah dan pondasi rumah tersebut sanggup untuk dibuat dua tingkat. Akan lebih baik lagi bila masih ada sisa lahan, sekitar 0,5-1 meter, untuk mengembangkan bentuk rumah. (KOMPAS)
Minggu, 26 September 2010
Tutorial 3D Studio Max: Rendering
Pada posting kali ini akan kita coba mengenali apa itu merender...? Merender adalah ibarat memetik buah hasil dari segala apa yang telah kita program, rencanakan, rancang/desain dengan mensave/menyimpannya menjadi sebuah file dengan format tertentu yang kita inginkan, entah itu berupa J Peg, PNG, Avi, dll.. Dan pada kesempatan kali ini, akan tersediakan sebuah template file 3DS MAX yang sederhana yang bisa Anda download untuk mengetahui secara sederhana tentang merender. Pada template tersebut hanya akan ada beberapa object sederhana : Teapot; Box/alas; skylight dan omni (sebagai penerangan), dan text. Dan perender yang akan kita gunakan adalah scanline, karena secara default ( keumuman tampilan 3DS MAX ketika kita membukanya sebelum diedit/diubah) adalah menggunakan scanline renderer. Gambar-gambar dibawah ini adalah hal-hal penting saja yang perlu diperhatikan ketika akan merender dan untuk lebih detailnya silahkan Anda buka template tersebut.
Peta komposisi objek yang akan kita render.
Diantara hal-hal penting yang harus diperhatikan ketika akan merender (scanline renderer) pada sample template pada kali ini : Anda klik render scene (atau tekan f10), lalu pilih advanced lighting- pilih light tracer. Lihat gambar dibawah...!!
Lalu Anda klik/aktifkan lampu omni pada viewport (sehingga berwarna putih), lalu klik tombol modify (sebelah kanan atas yang bersebelahan dengan create) untuk memunculkan parameternya. Bila sudah muncul maka atur multipliernya sesuai kebutuhan : sebagai misal yang sesuai untuk sample template yaitu 0.4. Lihat gambar dibawah....!!
Lalu aktifkan (kasih tanda centang) Shadow agar on/aktif. Bila tidak diaktifkan maka bayangan object anda tidak akan terrender alias tanpa bayangan sehingga akan tampak tidak realistis. Dan silahkan Anda pilih jenis bayangannya, sebagai contoh : Ray trace shadows. Silahkan dicoba-coba sendiri untuk mengetahui karakter masing-masingnya. Lihat gambar dibawah..!!
Lalu Anda kurangi densitas shadownya dari 1 menjadi 0.5 agar tidak terlalu gelap. Tapi hal ini tentu saja sesuai kebutuhan, yakni butuh improvisasi.
Untuk merender, Silahkan Anda cari sudut pandang yang sesuai pada viewport perspektif sebagai misal, sesuai yang anda inginkan terhadap object. Bila telah siap, tekan F10 untuk memunculkan "render scene", lalu pastikan bahwa dibagian bawah render scene, pada tampilan viewport terpilih tercantumkan "perspektif"/viewport mana yang ingin Anda render. Kemudian Anda tinggal tekan Render ( untuk cara cepat tekan F9). Maka akan tertampilkan sebuah kondisi kurang lebih seperti gambar dibawah ini... Silahkan tunggu sampai renderan selesei dengan sabar... setelah itu tinggal Anda save sesuai dengan bentuk file yang diinginkan... bila hasil renderan kurang sesuai silahkan diedit ulang dan dirender ulang sampai merasa cukup dengan hasilnya...
Contoh gambaran tampilan layar 3DS MAX ketika merender.
Gambar dibawah adalah contoh hasil renderan sesuai pada sample template yang telah tersediakan.
Selamat Menikmati....!!
Untuk File sample templatenya silahkan Anda download di sini.
(Catatan : File templatenya adalah 3DS MAX 7, pada umumnya filenya bisa dibuka pada software 3DS MAX semisal atau yang lebih tinggi/baru (3DS MAX 8;9;2008;2009),dan tidak bisa dibuka di 3DS MAX dibawahnya . Tapi ndak ada salahnya dicoba-coba dulu.)

Dan dibawah ini adalah contoh pengolahan hasil merender image sesuai pada template yang telah digabungkan menjadi file GIF.
Sumber: faneltsa3dsmax.blogspot.com
Tutorial 3D Studio Max: Menggunakan Modifier Bend
Berkenalan dengan modifier/pemodifikasi ?... akan menjadi sesuatu yang menyenangkan.... karena akan bisa mengobati kebuntuan-kebuntuan dalam mendesain, menemukan bentuk-bentuk baru yang kadang belum terbayangkan, menghilangkan kejemuan, memunculkan ide-ide baru... dan masih banyak lainnya. Terkadang bentuk-bentuk sederhanapun menjadi sesuatu yang menarik karenanya. Sebagai perkenalan awal akan modifier, akan kita coba berakrab-akrab dengan modifier "Bend". Dengan memperhatikan 2 image dibawah maka Anda akan tahu tentang apa itu Bend... yakni Pelengkung... coba perhatikan...
Tampilan object sebelum dimodifikasi.
Tampilan object setelah dimodifikasi.
Cara mengaktifkan modifier bend sangat mudah dan ada 2 cara. Tapi ingat modifier ini bisa ditampilkan bila object yang akan dimodifikasi sudah tersedia di viewport. Cara pertama pilih modifier - parametric deformer - bend. Lihat gambar dibawah....!!
Rata KiriCara kedua, pilih Modify- lalu buka modify list sehingga akan muncul sekian banyak modifier - pilih bend. Lihat gambar di bawah....!!
Bila modifier bend sudah diaktifkan, maka akan muncul sebuah parameter yang akan menjadi asisten anda dalam memodifikasi, parameternya sangat sederhana.. silahkan Anda otak-atik sendiri... agar lebih jelas... sebagai gambaran globalnya... Angel : besar sudut pelengkungan, Direction : Arah pelengkungan, Bend Axis : sumbu pelengkungan, Limit : Pembatasan dalam bermodifikasi. Lihat gambar dibawah...!!!
Sebagai sample tampilan visualnya, coba perhatikan image dibawah... cukup mudah dan jelas untuk dipahami bukan..... ?


Proses pemodifikasian dengan merubah angel dan direction dari parameter "bend".
Dan sebagai hidangan penutup, mari kita coba merakit image diatas menjadi satu tampilan visual yang akan memudahkan kita memahami tentang apa itu Bend dan dari sini akan tergambarkan kepada kita tentang apa itu animasi.
Selamat menikmati....!!!
Sumber: faneltsa3dsmax.blogspot.com
























